Sunday, October 14, 2012

Penalaran Deduktif

Penalaran Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Jenis Penalaran Deduktif ada 3, yaitu:

Silogisme, terdapat dua premis (pernyataan) dan satu simpulan. kedua premis itu adalah premis umum (mayor) dan khusus (minor).
Contoh: 
PU = Semua orang Islam wajib melaksanakan sholat
PK = Ihsan adalah orang Islam
S = Ihsan wajin melaksanakan sholat

Silogisme Negatif, sebuah silogisme yang salah satu premisnya bersifat negatif. Jika salah satu premisnya negatif simpulannya juga negatif. Dalam silogisme negatif biasanya digunakan kata 'tidak' atau bukan.
Contoh:
PU = Siswi di sekolah negeri tidak wajib berjilbab
PK = Dewi adalah seorang siswi di dekolah negeri
S = Dewi tidak wajib berjilbab

Entimen, silogisme yang diperpendek. Dari sebuah silogisme dapat dibuat entimennya. Demikian pula sebaliknya, dari sebuah entimen dapat disusun silogisnya.
Contoh:
Ihsan wajib melaksanakan sholat karena ia orang Islam

Korelasi Penalaran Deduktif dan Induktif

Kedua penalaran tersebut seolah - olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan.
Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembuktian_melalui_deduksi
http://www.jpowerpoint.com/Pola-Pengembangan-Paragraf-Deduktif-Induktif--PPT.html

No comments:

Post a Comment